Jakarta. Sinarpantura TV
— Dunia kembali diguncang oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, dan perhatian global tertuju pada satu pertanyaan besar: Di mana posisi Rusia dalam konflik antara Iran dan Israel? Ketika drama geopolitik dunia terus menggelinding, sosok pakar hukum internasional sekaligus pengamat strategi militer global, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, menyampaikan analisis tajamnya yang menggugah pikiran.
Mengamati perkembangan terkini, Prof. Sutan menilai bahwa konflik ini tak lagi sekadar perang wilayah, tetapi sudah masuk ke ranah permainan besar antar kekuatan adidaya. “Mengapa Rusia tampak diam? Apakah diamnya itu merupakan sinyal adanya kesepakatan gelap dengan Amerika Serikat?” ujar Prof. Sutan dalam keterangannya kepada media.
Ia menduga, bisa jadi telah terjadi tukar guling geopolitik: Rusia diberi ruang di Ukraina, sementara Amerika dan sekutunya diberi keleluasaan penuh di kawasan Timur Tengah, termasuk mendukung penuh Israel dalam menghadapi Iran.
Iran: Dari Perlawanan ke Isolasi
Iran, menurut Prof. Sutan, memulai langkahnya sebagai bentuk pembelaan diri setelah serangan masif dari Israel. Namun yang mengejutkan, hingga kini tak terlihat dukungan militer aktif dari Rusia, meskipun Israel sudah menggunakan teknologi tempur mutakhir buatan AS, termasuk pesawat generasi kelima dan rudal-rudal presisi tinggi jarak jauh.
“Amerika telah menyebarkan ratusan pesawat tempur dan sistem rudal kelas berat di negara-negara strategis Timur Tengah. Ini bukan dukungan biasa—ini adalah keterlibatan total,” tegasnya.

Diamnya Rusia, Sikap China dan Korut
Lebih lanjut, Prof. Sutan mempertanyakan posisi China dan Korea Utara yang hingga kini belum menunjukkan pergerakan signifikan, meskipun Iran adalah mitra strategis mereka. “Apakah mereka akan terus diam menyaksikan Iran hancur? Ataukah mereka sedang menunggu aba-aba dari Moskow?” ucapnya.
Dalam pandangannya, keterlibatan China dan Korut hanya bisa terjadi jika ada restu diam-diam dari Rusia. Tanpa itu, skenario besar bisa mengarah pada kekalahan permanen blok Timur di kawasan Timur Tengah.
Kegagalan PBB, Bahaya untuk Asia Tenggara
Prof. Sutan juga mengkritik keras kelumpuhan PBB dalam menghentikan agresi bersenjata yang berlangsung. Ia menilai, kondisi ini menjadi alarm keras bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
“Perang ini bukan hanya tentang Iran dan Israel. Ini adalah simulasi awal Perang Dunia III. Indonesia harus bersiap. Keamanan kawasan bisa terguncang jika konflik meluas,” ujarnya dengan nada serius.
Pesan Tegas untuk Presiden RI
Menutup analisanya, Prof. Sutan memberikan imbauan khusus kepada Presiden RI, Jenderal H. Prabowo Subianto, agar bersikap cermat dan strategis dalam membaca situasi global yang semakin mendekati titik ledak.
“Kita harus siap. Perang global bisa terjadi dalam hitungan bulan atau bahkan pekan. Jangan sampai Indonesia menjadi korban karena kelengahan atau salah membaca arah geopolitik,” tegas Prof. Sutan, yang juga dikenal sebagai Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Komite Mantan Preman Indonesia Istighfar, serta pengasuh Pondok Pesantren Ass Sama Plus Jakarta.
Skenario Kelam Dunia
Menurutnya, perang ini pada akhirnya akan menentukan siapa yang mendominasi peradaban selanjutnya—apakah blok Barat pimpinan AS, atau kekuatan baru yang dibangun oleh China, Rusia, dan sekutunya. Bila China kalah dalam konflik global ini, maka Asia Tenggara terancam menjadi wilayah rampasan kekuatan Barat.
“Perang ini bukan semata-mata soal senjata, tapi soal penguasaan sumber daya alam, kekuatan ekonomi, dan supremasi ideologi global. Dan yang paling menakutkan, perang ini bisa menjadi panggung para pemimpin nuklir dunia untuk adu kekuatan terakhir,” pungkasnya.
Narasumber:
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH
Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Pengamat Militer Global,
Presiden Partai Oposisi Merdeka,
Jenderal Komite Mantan Preman Indonesia Istighfar,
Pengasuh Pondok Pesantren Ass Sama



