Dua Penyair Legendaris Luncurkan Buku Puisi dan Baca Karya di Sastra Bulan Purnama Museum Sandi Yogyakarta
Yogyakarta.Sinarpanturatv.id
– Suasana sastra yang hangat dan penuh apresiasi mewarnai kegiatan Sastra Bulan Purnama yang digelar di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (14/3/2026) pukul 15.30 WIB. Dalam acara tersebut, dua penyair legendaris Indonesia, Sutirman Eka Ardhana dan Majuddin Suaeb, meluncurkan buku puisi terbaru mereka sekaligus menggelar pembacaan puisi bersama.
Penyair Sutirman Eka Ardhana meluncurkan buku berjudul Amuk Kenang yang memuat 74 puisi, jumlah yang disesuaikan dengan usianya saat ini. Sementara itu, Majuddin Suaeb memperkenalkan buku puisinya yang berjudul Tapa Pendhem, setebal 72 halaman, yang juga merepresentasikan usia sang penyair.

Kedua sastrawan tersebut dikenal aktif menulis sejak era 1970-an dan telah memberi warna dalam perjalanan sastra Indonesia.
Sutirman Eka Ardhana yang lahir di Bengkalis, Riau, banyak terinspirasi dari pengalaman masa kecil dan kenangan di kampung halamannya. Pengalaman hidup tersebut menjadi sumber inspirasi yang dituangkan dalam puisi-puisinya hingga terhimpun dalam buku Amuk Kenang.
Sementara itu, Majuddin Suaeb yang lahir dan menetap di Pengasih, Kulonprogo, dikenal sebagai penyair produktif yang telah meraih berbagai penghargaan. Di antaranya Penghargaan Bupati Kulonprogo tahun 2019 sebagai Kreator, serta penghargaan 50 Tahun Kepenyairan dari Badan Bahasa dan Sastra Jakarta.
Majuddin juga telah menulis sejumlah antologi puisi, baik tunggal maupun bersama, di antaranya Bulan Bukti Menoreh, Teka-Teki Abadi, Teka-Teki Titik Nol, serta antologi bersama seperti Gunungan, Penyair Yogya 3 Bu Generasi, Pendapa Parangtritis, Sastra Bulan Purnama, Khatulistiwa, Jauhari, Zamrud, dan lainnya.
Dalam acara tersebut, puisi-puisi karya Sutirman Eka Ardhana dibacakan dengan apik oleh para pembaca puisi berbakat seperti Oka Swastika Mahendra, Anastasia, Muhammad Sheva Athaya, Noviyanti, dan Alfitri.
Sementara itu, puisi karya Majuddin Suaeb dibawakan dengan penuh penghayatan dan improvisasi oleh sejumlah deklamator, antara lain Krishna Miharja, Dwi Winarno, Roy Sawit, Fathia Sari Buana Jajayanti, dan Tari Sudhiarto. Selain itu, tamu undangan Prof. Dr. Tuntas Subagyo, yang juga dikenal sebagai pembuat film, turut membacakan puisi dalam acara tersebut.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat berkarya para penyair lintas generasi tetap menyala, sekaligus memperkaya khazanah sastra Indonesia melalui ruang-ruang apresiasi seperti Sastra Bulan Purnama di Yogyakarta.
Red/sabar



