Usai Antar Pesanan dan Salat Maghrib, Driver Ojol di Pekalongan Meninggal Dunia di Area Wudhu Ponpes
Pekalongan, Sinarpanturatv.id
– Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Juroto (45), warga Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, meninggal dunia di area tempat wudhu masjid Pondok Pesantren di Desa Karangsari, Kecamatan Karanganyar, Minggu (10/5/2026) petang.
Sebelum meninggal dunia, korban diketahui sempat mengantarkan pesanan makanan dan mengikuti salat Maghrib berjamaah di masjid pondok pesantren tersebut.

Kapolsek Karanganyar Iptu Slamet Riyadi mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Korban datang ke lokasi untuk mengantarkan pesanan ayam geprek melalui aplikasi Gojek.
“Korban selesai mengantar pesanan makanan dan kemudian ikut melaksanakan salat Maghrib berjamaah di masjid,” ujar Iptu Slamet Riyadi dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, saat salat memasuki rakaat ketiga, korban tiba-tiba keluar dari saf dan menuju area tempat wudhu sambil menutupi mulutnya.
“Beberapa saksi mendengar korban batuk cukup keras di area tempat wudhu. Setelah jamaah selesai salat, korban ditemukan dalam posisi terlentang di bawah kran tempat wudhu dengan kondisi mulut mengeluarkan darah,” jelasnya.
Mengetahui kejadian tersebut, warga dan pengurus pondok pesantren segera melaporkannya ke Polsek Karanganyar. Petugas kepolisian bersama Tim Inafis Polres Pekalongan dan dokter jaga RSUD Kajen langsung mendatangi lokasi guna melakukan pemeriksaan.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Hasil pemeriksaan sementara dari dokter dan Tim Inafis, darah yang keluar dari mulut korban diduga akibat perdarahan saluran cerna. Tidak ditemukan adanya unsur kekerasan maupun tindak pidana,” terang Kapolsek.
Di lokasi kejadian, petugas juga mengamankan sejumlah barang milik korban, di antaranya telepon genggam, tas pinggang berisi dompet dan uang tunai, serta sepeda motor Honda Vario yang digunakan korban untuk bekerja.
Pihak keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Selanjutnya, jenazah korban diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
“Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak menghendaki dilakukan autopsi,” pungkas Iptu Slamet Riyadi. (ozy)



