banner 728x90

Balik HUT RI ke-80: Rakyat Miskin Melarat, Ironi di Hadapan Presiden

banner 468x60

Bogor, Sinarpantura TV

14 Agustus 2025 — Prof. Dr. KH Sutan Nasomal SH, MH, pakar hukum internasional dan ekonom, mengungkapkan gambaran pilu kehidupan rakyat Indonesia saat ini. Dalam sebuah sesi tanya jawab dengan para pemimpin redaksi media cetak dan online di markas pusat Partai Oposisi Merdeka, Jakarta, ia menyampaikan fakta menyedihkan di balik kemeriahan perayaan 80 tahun kemerdekaan RI.

banner 325x300

“Saya melihat langsung kisah nyata dari Andri, seorang pemulung asal Surade, Kabupaten Sukabumi, yang bersama keluarganya terpaksa tidur di emperan toko dekat lampu merah Ciawi, Bogor, selama lebih dari 4 tahun,” ungkap Prof. Sutan.

Andri, yang dulu bekerja sebagai buruh kuli di perkebunan, kini terpaksa merantau ke Bogor dan menggantungkan hidup dari hasil pemulungannya yang sangat minim. Istri Andri, Eli, seorang ibu yang sabar, bersama dua anak balitanya — Ikbal (4 tahun) dan Refan (2 bulan) — harus menempati emperan toko beralaskan kardus sebagai tempat berteduh.

Menurut Prof. Sutan, sulitnya lapangan pekerjaan di daerah asal membuat Andri kehilangan pekerjaan sebagai buruh kuli. Lahan perkebunan yang dulu menjadi sumber penghidupan masyarakat bergeser menjadi perkebunan kelapa sawit milik perusahaan besar, yang tidak menyerap tenaga kerja lokal. “Masyarakat yang dulu bertani dan menjaga hutan kini kehilangan mata pencaharian, sementara penghasilan harian Andri hanya Rp 30.000,” tambahnya.

Sepanjang berumah tangga, keluarga Andri belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Mereka hanya mampu bertahan hidup seadanya dengan penghasilan kecil itu. Setiap tahun, saat Ramadan, Andri pulang ke kampung halamannya di Garut, untuk menguatkan semangat keluarga.

Prof. Sutan menyatakan keprihatinannya yang mendalam terhadap kondisi ini. “80 tahun Indonesia merdeka, tapi ironisnya, kemiskinan dan kelaparan semakin meluas. Perkebunan rakyat yang menjadi tumpuan hidup selama ratusan tahun kini berganti fungsi menjadi perkebunan sawit yang tidak lagi memberi pekerjaan bagi masyarakat sekitar.”

Ia menegaskan bahwa Presiden RI, Jenderal Haji Prabowo Subiyanto, serta pemerintah pusat harus segera memperhatikan kondisi masyarakat desa yang kehilangan lahan dan lapangan kerja. “Banyak masyarakat desa terpaksa menjadi pemulung dan hidup terlunta-lunta. Pemerintah harus membuka lapangan kerja dan menghentikan perampasan tanah rakyat,” ujarnya.

Prof. Sutan juga mengingatkan bahwa jutaan keluarga miskin terus bertambah dan pengangguran puluhan juta jiwa menjadi ancaman serius. Negara wajib hadir memberi solusi agar masyarakat desa dapat bertahan dan berkembang di tanah airnya sendiri.

Andri mengungkapkan kesulitan lain yang dialaminya, yaitu ketika anak-anaknya sakit. Karena keterbatasan biaya dan tidak ada keluarga di Bogor, mereka terpaksa membawa anak-anaknya pulang kampung untuk mendapatkan perawatan.

Prof. Sutan menutup pernyataannya dengan harapan: “Semoga para pemimpin daerah, mulai dari bupati, walikota, hingga gubernur, mau turun langsung membantu masyarakat pedesaan dan membuka lapangan pekerjaan yang layak. Kesabaran masyarakat Indonesia yang luar biasa ini harus dihargai dan dijawab dengan tindakan nyata.”

Narasumber:

Prof. Dr. KH Sutan Nasomal SH, MH

Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Kompi, Pendiri & Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS Jakarta

Kontak: 0811 8419 260

 

 

 

banner 325x300
banner 728x90
Exit mobile version