banner 728x90

Prof Sutan Nasomal: Sejarah Membuktikan, Negara Terkuat Tak Selalu Lahir dari Demokrasi Barat

banner 468x60

Jakarta. Sinarpanturatv.id

– Berbagai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi penanda bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia terus berjalan dalam koridor demokrasi, kemanusiaan, dan keamanan yang relatif baik. Hal tersebut disampaikan oleh Prof Dr KH Sutan Nasomal, SH, MH, pakar hukum internasional dan ekonom nasional, saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan online, baik dari dalam maupun luar negeri, Kamis (8/1/2026).

banner 325x300

Pernyataan itu disampaikan Prof Sutan Nasomal dari Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka (POM) di Jakarta melalui sambungan telepon seluler.

Prof Sutan Nasomal: Sejarah Membuktikan, Negara Terkuat Tak Selalu Lahir dari Demokrasi Barat

Menurut Prof Sutan Nasomal, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto diyakini tidak akan melupakan sejarah bangsa dan memiliki kemampuan untuk menjaga serta menyelamatkan NKRI dari berbagai ancaman, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Ia kemudian memaparkan pandangannya mengenai kondisi geopolitik global saat ini. Dunia, kata dia, sedang terbelah ke dalam dua kubu besar. Persaingan kekuatan ekonomi, teknologi, hingga militer selama lebih dari dua dekade terakhir semakin memperjelas peta kekuatan global dan siapa saja yang tampil sebagai pemenang.

“Sejarah modern menunjukkan bahwa tidak semua negara yang menganut sistem demokrasi ala Barat otomatis menjadi kuat dan sejahtera. Bahkan, ada negara yang justru berkembang pesat tanpa mengikuti pola demokrasi tersebut,” ujar Prof Sutan Nasomal.

Ia menilai sejumlah negara demokrasi justru terjebak dalam persoalan kemiskinan, utang luar negeri, konflik internal, hingga perang saudara. Sebaliknya, ada negara-negara non-demokratis yang mampu tumbuh stabil, damai, dan tidak mudah ditekan oleh kekuatan asing.

Dalam pandangannya, Amerika Serikat—yang kerap disebut sebagai simbol demokrasi modern—dinilai terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “propaganda demokrasi palsu”. Prof Sutan Nasomal menyinggung keberadaan ratusan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, yang menurutnya menjadi bukti kepentingan geopolitik dan ekonomi global.

“Negara yang hingga kini tidak bisa ditekan atau diganggu oleh Amerika Serikat hanyalah China,” tegasnya.

Prof Sutan Nasomal menyebut China sebagai contoh negara yang mampu berkembang menjadi raksasa industri, ekonomi, teknologi, dan militer tanpa harus mengadopsi sistem demokrasi liberal. Menurutnya, Partai Komunis China berhasil menjalankan revolusi sosial dan ekonomi yang membawa kemajuan signifikan bagi rakyatnya.

Ia juga menyinggung sejarah Timur Tengah yang pernah mencapai puncak kejayaan di bawah sistem kerajaan Islam ribuan tahun lalu. Namun, kejayaan tersebut melemah seiring masuknya propaganda modernisasi dan demokrasi Barat yang, menurutnya, justru memicu perpecahan, konflik, dan ketergantungan utang.

“Demokrasi yang benar-benar jujur dan adil hampir tidak pernah ada. Banyak proses politik dikendalikan oleh kepentingan elit, bukan murni pilihan rakyat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof Sutan Nasomal menilai sistem kerajaan di beberapa negara hingga kini masih terbukti mampu menjaga stabilitas, kemakmuran, dan kedaulatan nasional tanpa bergantung pada kekuatan asing. Negara-negara tersebut, katanya, tidak menjadi boneka politik dan tetap dihormati di kancah internasional.

Terkait China, ia menilai negara tersebut berhasil menawarkan alternatif tatanan dunia. Tanpa harus menggelar pesta demokrasi yang mahal, China fokus pada pembangunan, kemandirian ekonomi, dan kerja sama internasional yang saling menguntungkan.

“China mengajarkan rakyatnya untuk berdiri di atas kaki sendiri agar tidak menjadi budak dunia. Dan itu terbukti,” kata Prof Sutan Nasomal.

Ia menegaskan bahwa China tidak menjajah negara lain, melainkan membuka pintu kerja sama ekonomi dan pembangunan dengan ratusan negara di dunia. Menurutnya, dunia tidak membutuhkan satu warna atau satu sistem tunggal, melainkan keberagaman model pembangunan.

Menutup pernyataannya, Prof Sutan Nasomal mengajak para pemimpin dunia untuk belajar dari sejarah. Ia juga menyinggung kejayaan masa lalu Nusantara, khususnya Kerajaan Sunda Nusantara, yang pernah menjadi kekuatan besar dan peradaban maju tanpa tunduk pada paradigma politik Barat.

“Sejarah jangan dilupakan. Dari sana kita bisa menilai, apakah peradaban hari ini benar-benar lebih maju, atau justru melangkah mundur,” pungkasnya.

Narasumber: Prof Dr KH Sutan Nasomal, SH, MH

 

 

banner 325x300
banner 728x90
Exit mobile version